JEJAK PERJALANAN LELUHUR DARI TANAH LIMBOTO HINGGA LAHIRNYA DESA DULANGEYA
-Kisah Hijrah, Perjuangan, dan Asal-Usul Nama Desa yang Sarat Makna-
Oleh : Febrian J. Kiraman, SH./Koordinator TPP Kec. Botumoito
Dulangeya, Botumoito – Setiap desa memiliki sejarah yang menjadi identitas dan kebanggaan masyarakatnya. Demikian pula dengan Desa Dulangeya, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Nama desa ini bukan sekadar sebutan wilayah, melainkan warisan sejarah yang lahir dari perjalanan panjang para leluhur yang penuh perjuangan dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, sejarah Desa Dulangeya bermula pada awal tahun 1810, ketika terjadi Perang Panipi, sebuah konflik perebutan kekuasaan antara Hemeto dan Tomayahu di wilayah Limboto. Perang tersebut menimbulkan penderitaan bagi masyarakat sehingga banyak hak-hak mereka terabaikan dan kehidupan menjadi semakin sulit.
Dalam situasi yang penuh tekanan tersebut, sebagian masyarakat memilih untuk meninggalkan kampung halaman dan mencari tempat baru yang lebih aman. Di antara para perantau tersebut terdapat dua tokoh dari Limutu (Limboto), yaitu Kilami yang bergelar Ti Ayuluti dan Rahimu yang bergelar Ti Talambuli.
Dengan menggunakan Uneya atau perahu kayu tradisional, keduanya memulai perjalanan menyusuri perairan Teluk Tomini. Berhari-hari mereka mengarungi lautan hingga akhirnya tiba di sebuah tanjung kecil yang memiliki teluk yang tenang. Mereka kemudian memutuskan untuk berlabuh dan beristirahat di tempat tersebut.
Pertemuan dengan Penjaga Teluk
Saat tiba di lokasi itu, Kilami dan Rahimu bertemu dengan seorang lelaki tua yang mengaku sebagai penjaga kawasan tersebut. Sosok tersebut bernama Duhi Melalito, yang bergelar Ti Wuwange. Menurut cerita, usia Duhi Melalito saat itu telah mencapai lebih dari seratus tahun.
Teluk yang tenang dan terlindung membuat Yunani Raja Palowa merasa aman untuk menetap sementara. Dalam bahasa Gorontalo, ia pernah mengungkapkan kalimat:
“Dula Dulango Uteya, amani po ti tualo.”
Ungkapan tersebut menggambarkan rasa aman dan nyaman yang ia rasakan saat berada di teluk tersebut, jauh dari ancaman para bajak laut.
Lahirnya Nama Dulangeya
Kisah yang disampaikan Duhi Melalito menjadi bahan perbincangan antara ketiga tokoh tersebut. Setelah melalui berbagai pertimbangan, mereka sepakat untuk menyederhanakan ungkapan “Dula Dulango Uteya” menjadi satu kata yang lebih mudah diucapkan dan diingat, yaitu “Dulangeya.”
Sejak saat itulah nama Dulangeya mulai digunakan sebagai penanda wilayah yang mereka tempati. Nama tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi nama resmi desa yang dikenal masyarakat saat ini.
Warisan Sejarah yang Tetap Hidup
Sejarah Desa Dulangeya tidak hanya menceritakan perpindahan penduduk dari Limboto ke wilayah pesisir Teluk Tomini, tetapi juga menggambarkan semangat perjuangan, keberanian, dan harapan para leluhur dalam mencari kehidupan yang lebih baik. Tokoh-tokoh seperti Kilami, Rahimu, Duhi Melalito, dan Yunani Raja Palowa menjadi bagian penting dari perjalanan lahirnya desa yang kini terus berkembang.
Hingga saat ini, kisah tersebut tetap menjadi warisan budaya yang dijaga oleh masyarakat sebagai pengingat akan asal-usul desa dan penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan dasar kehidupan di wilayah ini.
Menjaga Identitas dan Melestarikan Nilai Leluhur
Sebagai bagian dari Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo, Desa Dulangeya terus berupaya melestarikan sejarah dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Semangat kebersamaan, keteguhan menghadapi tantangan, serta kecintaan terhadap tanah kelahiran menjadi fondasi penting dalam membangun desa menuju masa depan yang lebih maju dan sejahtera.
Dulangeya bukan sekadar nama sebuah desa, tetapi simbol perjalanan sejarah, keberanian, dan harapan yang hidup dalam ingatan masyarakat hingga saat ini.
Sumber : Sekretaris Desa








0 comments:
Posting Komentar